Ike Fitri Wardani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Jadi Guru Harus Kuat

Jadi Guru Harus Kuat

JADI GURU HARUS KUAT

Bu Sajni berangkat sekolahnya jam berapa? Pulangnya jam berapa? Emangnya ngapain aja sih kok pergi kerjanya begitu pagi, pulangnya begitu sore? Kabarnya Bu Sajni pergi sebelum matahari muncul dengan sempurna, pulang ketika matahari beranjak hilang. Emangnya ngajar berapa jam sih? Suami ga mengeluh? Anak-anak ga protes?

Bu Sajni ngapain ngurusin anak orang? Anaknya di rumah terurus ga? Anaknya makan siang sama siapa? Mandi sore sama siapa? Anaknya ngaji sama siapa? Lha, Bu Sajni kan tau sendiri anak itu aset buat orang tua. Kok anaknya malah diurus sama pengasuh. Anaknya 10 jam sama pengasuh, sama Bu Sajni nya sendiri coba hitung, ada 5 jam ga sehari?

Ini hari kedua USBN BK di sekolah bu Sajni. Kebetulan pula Bu Sajni ketua panitia yang bertanggung jawab penuh atas berlangsungnya USBN BK dengan baik, selain Kepala Sekolah tentunya. Hari pertama USBN BK, sesi pertama ada satu orang siswa yang tidak datang tepat pada waktunya. Alasannya ya macam-macam, namanya siswa. Dengan ikhlas Bu Sajni melakukan tugas pembinaan kepada siswa A. Mengetuk hati siswa A untuk memahami pentingnya disiplin apalagi dalam menghadapi USBN ini. Belum lagi besok UNBk, dan bla bla bla bla yang Bu Sajni sematkan di pintu hatinya. Berharap hatinya terketuk dan terbuka untuk menerima wejangan dari sang guru. Meyakinkan bahwa USBN ini adalah program pemerintah yang harus diikuti sebagai syarat kelulusan SMA. Karena datangnya sudah diujung waktu sesi satu, terpaksa siswa A ikut ujian susulan.

Sesi kedua ada dua siswa lagi yang terlambat, kembali dengan sabar Bu Sajni mengajak siswa tersebut untuk berbincang, mencoba mencari tau dimana kurang pas nya perencanaan sang siswa hingga bisa terlambat hampir 1 jam. Lain siswa lain polemik, tapi Bu Sajni harus menghadapi dengan hati yang sama, hati yang terbuka lebar pintu maaf dan terbuka lebar kesempatan untuk memperbaiki, meskipun terlambat ini sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi mereka. Anggap saja Bu Sajni gagal menanamkan kedisiplinan sejak awal mereka di sekolah ini, jauh hari sebelum USBN dilaksanakan. Alhasil salah satu siswa harus mengikuti ujian susulan.

Bolak balik berpikir, mencari cara agar keterlambatan peserta USBN tidak terulang kembali. Walaupun tim Bu Sajni sudah memikirkan cara jitu untuk itu, seperti menyediakan ruang tunggu di sebelah labor komputer. Peserta USBN wajib hadir di ruang tunggu satu jam sebelum ujian dimulai. Tapi, lagi-lagi anggap saja Bu Sajni belum sukses merangkul siswa dalam hal itu. Walaupun hanya satu siswa yang terlambat, tetap namanya terlambat, ya toh?

Keesokan harinya, hari kedua USBN. Dengan penuh semangat Bu Sajni melangkahkan kaki dari tempat parkiran motornya menuju ruang kantor majelis guru yang bersebelahan dengan ruang labor komputer. Sedikit terobati hati Bu Sajni karena pagi-pagi jam segini hampir semua peserta ujian sesi pertama sudah stand by di depan labor. Senangnya, berharap hal ini akan tetap bertahan dan keterlambatan semakin menurun.

Setelah bel tanda masuk berbunyi Bu Sajni mengecek jumlah peserta ujian sesi satu, dibantu oleh Pengawas Ruang. Yap, benar saja hampir semua nya hadir, kecuali satu orang. Bu Sajni masih berpikir positif semoga dalam beberapa menit lagi siswa tersebut akan muncul di hadapannya. Peserta USBN mulai berbisik, masih saja ada yang terlambat ternyata. Padahal beberapa siswa sudah berbuat di luar kebiasaannya, yaitu hadir jauh lebih awal, bahkan lebih dulu dari Bu Sajni. Mungkin karena sudah ada shock terapi kemaren ada 2 orang yang tidak bisa ikut ujian karena terlambat dan akhirnya ujian susulan.

Beberapa saat kemudian sang siswa yang ditunggu-tunggu datang. Terlambat tentu menimbulkan banyak efek negatif. Otak enjoy mulai berubah jadi otak panik, rasa lapar karena belum sarapan semakin menjadi, konsentrasi dan fokus menurun, dan lain sebagainya. Kali ini Bu Sajni merubah strategi. Jika kemaren peserta yang terlambat karena lebih dari satu jam hanya diperkenankan ikut ujian susulan, kali ini siswa terlambat yang kebetulan belum satu jam (ah, terlambat 5 menit juga namnya tetap sama, terlambat) tidak diberikan perlakuan sama. Sang siswa boleh ikut ujian dengan syarat membuat surat perjanjian yang isi nya pernyataan bahwa ia berjanji tidak akan terlambat lagi selama ujian dan bersedia menerima resiko jika ia mengulangi keterlambatannya.

Berharap hal ini akan memberikan shock terapi yang lebih tajam buat peserta ujian agar tidak ada lagi keterlambatan selama ujian berlangsung. Dasar Bu Sajni, orang nya anti mainstreem, langsung ambil Handphone, foto surat perjanjian, upload di group WA kelas XII. Tujuan nya hanya satu, menyatakan eksistensi peraturan dan disiplin sekolah ini. Anti mainstreem nya lagi, Bu Sajni juga menyertakan puisi pada postingannya di grup WA.

Dear Cinta, Pagi ini kembali kau mengoyak hatiku

Pagi ini kembali kau minta garang ku

Pagi ini kembali kau ukir sejarahmu

Dear Cinta, Ku ingin kembali melihat asamu

Ku ingin kembali merangkul harapanmu

Kuingin kembali menggenggam semangatmu

Dear Cinta, Aku hanya pelayan negara

Yang tugasku membimbing anak bangsa

Semoga menjadi amal di akhirat sana

Dear Cinta, Aku hanya pelayan negara

Yang ingin menjadi bagian bangsa

Untuk membangun Indonesia

Puisi dadakan ini ungkapan hati Bu Sajni bahwa apa yang dilakukannya hanyalah semata mata karena amanah negara yang di emban nya. Jika tidak tentu Bu Sajni lebih memilih menyuapi anaknya makan siang, memandikan anaknya di sore hari, mengantarkan anaknya mengaji di Mesjid. Tapi tidak, semua itu tidak bisa dilakukan nya. Beberapa orang dari non guru menyatakan kebanggaannya menjadi ibu rumah tangga, yang waktunya full untuk merawat anak-anak, mengabdi pada suami, menjadi permaisuri di istananya.

Tapi tidak dengan Bu Sajni, ini adalah pilihan hidupnya. Bukan tanpa alasan Bu Sajni memilih menjadi seorang guru. Bukan tanpa alasan Bu Sajni memilih si Bapak menjadi suaminya. Karena tidak semua pria mau dan mengizinkan istrinya bekerja di luar, sementara anaknya diserahkan kepada pengasuh. Tidak semua pria.

Bu Sajni hanya seorang pelayan negara yang tugasnya membimbing anak didiknya menjadi orang yang lebih sukses dari nya. Mambangkik batang tarandam. Membuka cakrawala dunia. Menyiapkan anak didiknya untuk melanglang buana mengelilingi dunia. Lalu mungkinkah hal tersebut diperoleh tanpa karakter yang baik.

Sekarang dimana letak salahnya ketika guru yang rela meninggalkan keluarga nya demi mendidik anak bangsa mati-matian menegakkan disiplin? Guru muda yang berusaha tampilan dengan dandanan cantik ini masih disebut “harimau sekolah”. Guru yang jika memakai jilbab merah disebut “ganas” hanya karena berkeliling sekolah menyuruh sholat ke mesjid, menyapu bersih seluruh ruangan kelas hanya membantu siswa nya dekat dengan Allah? Guru yang katanya “sangar” karena bisa membuat para “cabuters” keluar dari kantin hanya dengan tatapan matanya, tanpa bersuara.

Jika hari ini Bu Sajni merasa sedih karena siswa yang dibinanya berkata kasar, carut marut, bahkan menyamakan nya dengan binatang berkaki empat, hanya karena disuruh buat surat perjanjian untuk tidak terlambat lagi, maka itu ladang amal buat Bu Sajni. Allah tidak tidur, Allah Maha Tahu. Bu Sajni harus kuat, ya, kuat. Karena Bu Sajni diciptakan berbeda, di tempatkan pada derajat yang tinggi di dunia, yakni sebagai seorang pendidik. Insyaallah juga di akhrat kelak, aamiin.

Ingat Bu Sajni, bukankah di setiap pertemuan baik tingkat sekolah hingga tingkat negara selalu diselipkan doa untuk para guru. Bukankah amal jariyah yang akan membantu kelak salah satunya ilmu yang bermanfaat. Bukankah semua orang di dunia ini pernah menjadi murid seorang guru.

Jadi Guru Harus Kuat, air mata yang keluar karena umpatan dan perkataan kasar dari siswa mu yang kau didik selama 3 tahun, lebih baik kau simpan. Bu Sajni harus terlihat cantik saat pulang kerumah. Biar anak-anak Bu Sajni juga ceria menyambut di depan pintu rumah. Meskipun Bu sajni pulang sudah sangat larut.

Jadi Guru Harus Kuat, di balik perlakuan kasar seorang murid, ada seribu murid yang sayang pada Bu Sajni, yang selalu menyimpan simpati pada Bu Sajni. Yang selalu menjadikan Bu Sajni sebagai inspiratornya. Yang selalu senang mendengar pengalaman dan prestasi Bu Sajni. Karena guru yang baik itu bukanlah guru yang pintar dalam mengajar saja, tetapi guru yang baik itu adalah guru yang memberi tauladan dan menginspirasi.

Jadi Guru Harus Kuat, doakan saja siswa yang berbuat salah akan menyadari kesalahannya dan Allah menggiringnya menjadi orang yang lebih baik. Tiada lain kebanggan seorang guru, selain melihat siswanya sukses, menjadi orang, dan masih menghargai jasa guru. Semoga Allah senantiasa bersama Bu Sajni dalam berjihad mencerdaskan anak bangsa.

Jadi Guru Harus Kuat (catatan hari kedua USBN-Bu Sajni)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Iya sehari ini banyak nangis. Td udah diproses langsung anaknya kak. Ga nyangka sayaaahhhh...

15 Mar
Balas

Kasian sekali bu Sajni. Ci pernah dengar, kalo kita bekerja dengan gaji 100 ribu, tapi melakukannya dengan ikhlas seharga 200rb, maka yg gaji separonya lagi dilebihkan pada rezeki pada anak2 kandung kita yang belajar tanpa disuruh, anak yg soleh/soleha, suami yg tidak banyak perangai,energi dan kesehatan u terus mendidik siswa, hati yang lembut dan terbuka mendengar nasehat dan ilmu, dll. Semoga Bu Sajni disayang Allah.

15 Mar
Balas

Curahan hati guru.. smangat cik gu

15 Mar
Balas

Sedih memang ibu. Dilema seirang guru yang ingin anak didiknya melebihi prestasi dan karakter gurunya. Semoga jadi amal bu

16 Mar
Balas

Mantap ike

15 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali